Rabu, 20 Mei 2009

akhernya punya blog..!!!

hahaha.....
cukup sekian dluw,hahaha,cuma baru blog aja bangga...

wkwkwk

:P
selingan tak kasi... :
Jembatan Penghubung Perbedaan Gender

Adanya jurang pemisah antara kadar kuantitas dan kualitas pemberian hak untuk anak laki-laki dan anak perempuan, sehingga menyebabkan adanya pembedaan status sosial, baik di lingkungan masyarakat maupun di lingkungan sekolah.
Selain karena adanya hal yang dirasa sangat membedakan antara laki-laki dan perempuan, yaitu pendapat bahwa laki-laki lebih “kuat”, keadaan ekonomi keluarga pun menjadi salah satu faktor penyebab anak tidak memperoleh hak-hak yang semestinya didapat.
Anak yang hidup di lingkungan keluarga yang kehidupannya berkecukupan, akan mendapat perlakuan yang berbeda dengan anak yang kehidupan ekonominya kurang memadahi. Hal ini disebabkan karena cukup atau kurangnya fasilitas yang diberikan, dimulai dari fasilitas pendidikan, hingga ke kebutuhan tersier ataupun hiburan (mainan, televisi, komputer,dsb)
Mengajak orang tua agar dapat berusaha untuk mewujudkan hak-hak anak mereka, namun tidak mengurangi norma-norma yang ada di masyarakat adalah cara yang dirasa paling memungkinkan agar tidak terjadi pembedaan status apakah dia laki-laki, atau dia perempuan.
Misalnya, orang tua diharapkan dapat menyekolahkan anak-anak mereka tanpa memandang perbedaan gender. Sebagian orang mungkin akan mengira bahwa hal seperti itu hanya terjadi pada saat negara Indonesia masih dijajah. Namun kenyataanya, di era globalisasi ini pun masih terjadi seperti itu, yang seharusnya perbedaan jenis kelamin tidak lagi dipermasalahkan. Apalagi kini sekolah-sekolah sudah mulai dibebaskan dari biaya iuran sekolah.
Maka seharusnya sudah tidak lagi menerapkan istilah yang menyebutkan bahwa laki-laki adalah sang pemimpin, sedangkan perempuan selalu ada di belakang laki-laki. Karena sekarang semua adalah sama. Sama dalam hal melakukan kewajiban maupun mendapat hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan.
Mengapa dalam tulisan ini saya menggambarkan sosok wanita dengan kata-kata “perempuan” , mengapa tidak “wanita” atau mengapa tidak “cewek”? Saya berpikir, setiap perempuan tidak dapat dianggap remeh. Karena selain berkewajiban mengurusi rumah tangga, perempuan pun memiliki suatu karismatik tersendiri. Apalagi jika perempuan tersebut berubah menjadi seorang ibu, dimana sosok seorang ibu adalah sosok yang harus dihormati oleh orang yang lebih muda, apalagi anak-anaknya kelak. Maka dari itu ada pepatah mengatakan, “Surga di telapak kaki ibu”.
Kita tidak boleh menyebut bahwa laki-laki itu bebas melakukan apa saja yang mereka inginkan, namun di lain sisi, pendapat yang berasal dari perempuan tidak mudah diterima di kalangan masyarakat luas.
Padahal tiap perempuan memiliki kemampuan dan kekuatan tersembunyi di balik fisiknya yang terkesan `lemah`. Karena perempuan memiliki peran yang besar dalam segala hal di dunia ini. Jika Tuhan tidak menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam, maka Adam pun akan merasa kesepian. Karena di dunia ini sudah memiliki pasangannya masing-masing. Ada yang laki-laki ada pula perempuan, ada yang besar dan juga ada yang kecil, ada siang ada malam, ada aman ada bahaya, dan lain sebagainya.
Karena sudah ditentukan kodrat dan jalan hidupnya masing-masing, maka kita tidak boleh seenaknya menyalahi aturan yang telah ada. Belakangan ini, ada laki-laki yang mengubah penampilan fisiknya menjadi perempuan. Bisa jadi orang tersebut tidak dapat mengerti apa makna dari mensyukuri yang telah dikaruniai Tuhan. Padahal sebenarnya jika kita dapat bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan, maka kita pun akan ditambah kenikmatannya.
Namun semua itu harus datang dari dalam diri kita sendiri, dan juga dukungan dari orang-orang terdekat kita. Maka daripada itu, orang tua diharap tidak membedakan cara mendidik antara anak yang A dengan anak yang B, dan anak laki-laki dengan anak perempuan. Jika hak-hak anak sudah terpenuhi, maka orang tua tidak hanya melepaskan anak mereka begitu saja, namun juga dituntun menuju jalan menikmati hak yang benar.
Tak hanya dari orang tua, anak pun juga harus menyikapi dengan benar hak-hak yang telah mereka peroleh, dengan cara memenuhi kewajiban-kewajiban sebagai anak. Sehingga tidak hanya menikmati hal yang instan, tetapi mereka juga harus berusaha untuk mendapatkannya, untuk mendapat kehidupan yang lebih baik.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar